Tampilkan postingan dengan label Advice. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Advice. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Agustus 2012

Pesan Ramadhan

Seakan-akan aku melihat Ramadhan.., lalu kusapa ia, "Hendak kemana dikau?"

Dengan lembut ia seakan-akan berkata, "Aku harus pergi, mungkin jauh dan sangat lama. Tolong sampaikan pesanku untuk setiap muslim: Sesungguhnya Syawaal telah tiba, salam dan terima kasihku untuknya karena telah menyambutku dengan suka cita. Aku tidak tahu apakah tahun depan ia masih bisa menyambutku lagi atau tidak??

Jika tahun depan ia masih bisa menyambutku lagi maka aku berharap ia bisa menyambutku dengan lebih baik lagi, dengan penuh tilawah dan shalat malam.

Aku sangat sedih jika mengingat penyambutannya yang kurang berkenan di hatiku, masih terlalu banyak canda, perkataan yang sia-sia serta waktu-waktu yang terbuang tanpa arti.., padahal ia tahu bahwa jika ia menyambutku dengan baik maka tentu aku akan menyambutnya dengan lebih baik lagi kelak di pintu Ar-Royyaan..

Akan tetapi semua sudah berlalu dan sudah terlanjur. Semoga setetes air mata yang pernah berlinang dari kedua matanya karena takut tidak bisa menyambutku dengan baik akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya dan menyempurnakan kekurangan-kekurangannya.

Sampaikan pula kepadanya bahwa bukanlah lebaran yang hakiki adalah dengan hanya memakai baju baru, akan tetapi lebaran yang hakiki adalah bergembira dengan keimanan dan semangat baru dalam beribadah. Janganlah sepeninggalku ia terjerumus kembali kepada kemaksiatan-kemaksiatan.., ingatlah sesungguhnya Tuhan yang ia sembah tatkala ia menjamu kedatanganku.. Dialah Tuhan yang juga ia sembah tatkala aku pergi..

Demikianlah pesanku kepadanya, sampaikan salamku kepadanya, semoga ia masih tetap terus merindukan kedatanganku di tahun-tahun mendatang.., sampai bertemu di pintu Ar-Royyaan.."

((Sepenggal catatan yang diambil dari status FB al Ustadz Firanda Andirja hafizhahullah))

---

Atas nama Pernak-Pernik Hati mengucapkan;

Selamat Hari Raya 'Idul Fitri 1433 H.

Taqabbalallahu minna wa minkum.. :)

Sabtu, 28 Juli 2012

Perusak - Perusak Hati

Allah Ta'ala berfirman:

"Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." {Al-Israa': 22}

Perusak-perusak hati ada banyak, seluruhnya terkumpul di dalam lima perkara:

1. Berlebihan bergaul dengan manusia
2. Mengarungi samudera angan-angan
3. Bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala
4. Makanan
5. Banyak tidur

Please check this link for full post.. Perusak-Perusak Hati

Minggu, 08 Juli 2012

Jilbab Bersanggul

"Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia, dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun hanya tercium selama perjalanan sekian dan sekian." (HR. Muslim no. 2128)

---


Untuk saudariku muslimah, dimana pun kalian berada. Berhati-hatilah dengan dunia fashion pada masa sekarang, terlebih mengenai pakaian yang wajib kita kenakan, yakni hijab syar'i. Jangan terpengaruh dengan label jilbab gaul, jilbab modis, dan lain sebagainya jika tidak dapat memenuhi kriteria yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

Apalagi pada saat ini, dimana tren jilbab bersanggul telah mewabah, menjadi sebuah hal yang diminati oleh kalangan wanita muslimah. Padahal model jilbab tersebut belum dapat memenuhi kriteria hijab syar'i yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Bukankah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, bahwa wanita yang tidak dapat mencium baunya surga (salah satunya) adalah wanita yang kepalanya seperti punuk unta?

Inilah contoh jilbab bersanggul yang tak ubahnya seperti punuk unta..

ciput bersanggul*

jilbab bersanggul*

seperti punuk unta*

Untuk itu, marilah saudariku muslimah, kita sama-sama memperbaiki hijab yang kita kenakan, terkhusus dalam soal ini adalah jilbab penutup rambut kepala kita. Kenakanlah jilbab sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh para shahabiyah radhiyallahu 'anhunna. Yang menjuntai/ terjulur sampai ke dada (khimar) dan yang menutupi seluruh tubuh kita. Semoga Allah mudahkan bagi kita untuk menjalankan secuil dari perintah-Nya, yakni berhijab syar'i, insya Allah, aamiiin.. :)

Check this page, please.. Pernak-Pernik Hijab Muslimah

*sumber gambar: Google and another website

Jumat, 11 Mei 2012

Menjauhi Ketenaran

Al-Imam Al-Fudhail bin `Iyadh (Tabi`ut Tabi`in) rahimahullah mengatakan, "Wahai hamba Allah, sembunyikanlah selalu kedudukan muliamu. Jagalah selalu lisanmu. Minta ampunlah terhadap dosa-dosamu, juga dosa yang diperbuat kaum mukminin dan mukminat sebagaimana yang diperintahkan padamu."

Al-Imam Abu Ayub As-Sikhtiyani rahimahullah mengatakan, "Seorang hamba sama sekali tidaklah jujur jika keinginannya hanya ingin mencari ketenaran." [Ta`thirul Anfas, halaman 276]

Al-Imam Ibnul Mubarok rahimahullah mengatakan bahwa Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah menulis surat padanya, "Hati-hatilah dengan ketenaran." [Ta`thirul Anfas, halaman 277]

Daud Ath-Tho`i rahimahullah mengatakan, "Menjauhlah engkau dari manusia sebagaimana engkau menjauh dari singa." [Ta`thirul Anfas, halaman 278] Maksudnya, tidak perlu kita mencari-cari ketenaran ketika beramal sholih.

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, "Beruntung sekali orang yang Allah buat ia tidak tenar." Beliau juga pernah mengatakan, "Aku lebih senang jika aku berada pada tempat yang tidak ada siapa-siapa." [Ta`thirul Anfas, halaman 278]

Dzun Nuun rahimahullah mengatakan, "Tidaklah Allah memberikan keikhlasan pada seorang hamba kecuali ia akan suka berada di jubb (penjara di bawah tanah) sehingga tidak dikenal siapa-siapa." [Ta`thirul Anfas, halaman 278]

Al-Imam Al-Fudhail bin `Iyadh rahimahullah mengatakan, "Rohimahullohu `abdan akhmala dzikrohu (Moga-moga Allah merahmati seorang hamba yang tidak ingin dirinya dikenal/ tenar)." [Ta`thirul Anfas, halaman 280]

Ibrohim bin Ad-ham rahimahullah mengatakan, "Tidaklah bertakwa pada Allah orang yang ingin kebaikannya disebut-sebut orang." [Ta`thirul Anfas, halaman 286]

---

Sumber: Nasehat seorang sahabat melalui inbox FB. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

Kamis, 26 April 2012

Sudahkah Kau Bayar Utangmu [Bag 3-terakhir]

Lanjutan dari artikel sebelumnya..

Bahaya Utang yang Tidak Dibayar

Orang yang berutang hendaklah berpikir bahwa dirinya mempunyai tanggungan kepada orang lain yang tidak bisa diselesaikan perkaranya melainkan dengan yang bersangkutan, berbeda dengan dosa lain karena melanggar hak Allah Subhanahu wa Ta`ala.

1. Jiwa senantiasa berurusan dengan utangnya.
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam bersabda:

"Jiwa seorang mukmin bergantung pada utangnya sehingga dia membayarnya." (HR. at Tirmidzi: 4/249, dishahihkan oleh al Albani dalam al Misykat: 2/158)

2. Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam enggan menshalati jenazahnya.
Salamah bin al Akwa` radhiyallahu `anhu berkata: Kepada Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam dihadirkan jenazah agar beliau shalati, lalu beliau bersabda:

"Apakah dia punya utang?" Mereka (para sahabat) menjawab: "Ya." Beliau berkata: "Shalatilah temanmu." Abu Qatadah radhiyallahu `anhu berkata: "Wahai Rasulullah, aku yang menanggung utangnya." Lalu beliau mau menshalatinya. (HR. al Bukhari: 8/77)

3. Dihukumi sebagai pencuri bila tidak membayar.
Hadits dari Shuhaib al Khoir radhiyallahu `anhu, Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam bersabda:

"Siapa saja yang berutang sedang dia berniat tidak membayarnya maka dia mati dalam keadaan mencuri." (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh al Albani dalam Shahih Ibnu Majah: 2/52)

4. Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala dari beratnya membayar utang.
Aisyah radhiyallahu `anha berkata: Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam berdo`a pada waktu shalat dengan do`a: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan banyak utang." (HR. al Bukhari: 8/233)

Rabu, 25 April 2012

Sudahkah Kau Bayar Utangmu [Bag 2]

Lanjutan dari artikel sebelumnya..

Adab Pemberi Utang

Agar terjalin hidup bermasyarakat yang baik dan mendapat ridha Allah Subhanahu wa Ta`ala, orang yang memberi utang hendaklah memiliki etika atau akhlak yang baik ketika hendak mengutangi orang lain, terutama kepada saudara sesama muslim yang sangat membutuhkan.
  1. Hendaknya ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta`ala ketika menolong orang yang membutuhkan pinjaman, tidak merugikan dirinya dan peminjam. Baca kembali QS. At Taghobun [64]: 17 dan Al Baqarah [2]: 279.
  2. Tidak mengutangi orang yang ingin merusak aqidah, ibadah, dan moralnya >> "...Dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." {QS. Al Ma`idah [5]: 2}
  3. Jika yang berutang belum mampu membayar hendaknya ditangguhkan hingga mampu membayar >> "Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan..." {QS. Al Baqarah [2]: 280}
  4. Sungguh amat baik, bila pemberi utang membebaskan sebagian utang saudaranya yang miskin >> "...Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." {QS. Al Baqarah [2]: 280}
  5. Tidak menerima suap dari yang berutang >> "...Dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman." {QS. Al Baqarah [2]: 278}
  6. Meminta saksi dan penulis bila diperlukan.
  7. Hendaklah menerima pengalihan pembayaran utang bila ada yang menanggungnya.
Disebutkan dalam sebuah hadits, pada suatu ketika Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam enggan menshalati jenazahnya orang yang meninggal dalam keadaan masih berutang. Lalu Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu berkata: "Shalatilah dia, wahai Rasulullah! Aku yang menanggung utangnya." Kemudian beliau shalallahu `alaihi wa sallam menshalatinya. {HR. al Bukhari: 8/329}

Selasa, 24 April 2012

Sudahkah Kau Bayar Utangmu [Bag. 1]

Oleh: Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron -hafizhahullah

Utang piutang telah membudaya. Penerapannya pun sudah salah kaprah. Utang piutang yang semula merupakan bentuk tolong-menolong berubah menjadi bentuk usaha yang harus menguntungkan, maka lahirlah istilah bunga pinjaman. Padahal jika mau dikembalikan ke asas dibolehkannya utang-piutang maka keuntungannya malah berlipat, pahala dari Allah Subhanahu wa Ta`ala. Bukannya harta haram, ambruknya perekonomian dan murka Allah Subhanahu wa Ta`ala. Renungkanlah.

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermua`malah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Rabbnya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada utangnya..." {QS. Al Baqarah [2]: 282}

Mengherankan sekaligus mengenaskan, orang yang tidak mau utang dipaksa supaya utang, sedangkan yang tidak punya agunan berani ambil pinjaman. Terjadilah dilema. Jika utang ke bank dibayar tepat waktu sedangkan utang kepada saudara sesama muslim pura-pura dilupakan. Akhirnya, persaudaraan pun menjadi renggang.

Ingatlah wahai saudara, utang yang tidak dibayar di dunia kelak ditagih ketika timbangan ditegakkan. Perhatikan keterangan di bawah ini sebelum maut datang menjemput. Lunasi utangmu sebelum dirimu dan keluargamu menderita.

Minggu, 22 April 2012

Dilema Kaum Muslimah; Belajar atau Mengurus Rumah?

Bismillaah

Belajar agama penting, namun mengurus rumah tangga, suami dan anak-anak juga tidak kalah penting bagi ibu rumah tangga. Lalu bagaimana solusinya? Mendatangkan pembantu atau ada solusi lain? Solusi dari dilema ini tentu bukan hal yang saklek harus begini atau harus begitu. Namun mari kita simak nasehat seorang ulama besar tentang masalah ini.

Pertanyaan:
Mana yang lebih utama bagi seorang wanita muslimah, menunaikan kewajibannya mengurus pekerjaan rumah dan mengurus suaminya? Ataukah menghabiskan waktunya menuntut ilmu agama dengan mendatangkan seorang pembantu rumah tangga untuk mengurus pekerjaan rumahnya. Mohon bimbingan Anda, semoga Allah memberi Anda ganjaran yang lebih baik.

Syaikh Shalih bin  Fauzan Al Fauzan hafizhahullah menjawab:
Benar bahwa wajib bagi setiap wanita muslimah untuk serius belajar agama sesuai dengan kesanggupannya. Namun, melayani suami, mentaati suami dan mengurus anak-anak adalah kewajiban yang agung. Hendaknya ia setiap harinya menyempatkan diri belajar agama walau hanya sedikit, atau menyempatkan diri menghadiri pengajian walau sebentar. Atau juga ia dapat mengalokasikan waktu tertentu setiap harinya untuk membaca, lalu sisa waktunya untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dengan demikian ia tidak meninggalkan belajar agama dan tidak meninggalkan pekerjaan rumahnya, tidak meninggalkan anak-anaknya tanpa perlu menyerahkannya kepada pembantu rumah tangga.

Hendaknya ia menjaga keselarasan dalam masalah ini, antara waktu untuk belajar agama walau sedikit dengan waktu yang cukup untuk pekerjaan rumah tangga.

(Muntaqa Fatawa Shalih Al Fauzan, jilid 4, fatwa no. 195)

Sabtu, 21 April 2012

Nasehat untuk Generasi Muda Ahlus Sunnah (Nasehat Pertama)

Termasuk salah satu prinsip yang ditetapkan dalam agama Islam, bahwa setiap muslim sebelum ia menyibukkan dirinya dengan (kekurangan) orang lain, hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh, membenahi diri, berupaya merealisasikan keselamatan, dan menjauhkan segala hal yang akan menyebabkan kebinasaan terhadap dirinya.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta`ala:

"Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shaleh, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kebenaran, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran." {QS. Al Ashr: 1-3}

Allah Subhanahu wa Ta`ala memberitakan tentang orang-orang yang akan selamat dari kerugian, yaitu orang-orang yang terwujud pada dirinya perangai-perangai tersebut. Allah Subhanahu wa Ta`ala menyebutkan bahwa mereka merealisasikan pada diri mereka keimanan dan amal shaleh terlebih dahulu sebelum mereka mendakwahi orang lain. Dakwah dengan nasehat-menasehati supaya menetapi kebenaran, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran. Sehingga ayat-ayat ini benar-benar telah menetapkan permasalahan ini. Dan Allah Subhanahu wa Ta`ala sungguh telah mencela Bani Isra`il, dikarenakan mereka menyelisihi prinsip ini, yaitu dengan berfirman:

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Alkitab (Taurat). Maka tidaklah kamu berpikir?." {QS. Al Baqarah: 44}

Oleh karena itu hendaklah setiap pemuda senantiasa membenahi dirinya sendiri sebelum berusaha membenahi orang lain, dan tatkala dirinya telah mencapai istiqomah (dalam kebaikan), kemudian ia menyatukan antara penerapan ajaran agama pada dirinya dengan perjuangan mendakwahi orang lain, maka ia benar-benar telah meniti metode dan petunjuk ulama`salaf, dan Allah akan melimpahkan kemanfaatan dari (dakwah)nya. Dengan demikian mereka adalah para da`i menuju kepada As Sunnah melalui ucapan dan perilakunya. Dan sungguh demi Allah, metode ini merupakan kedudukan paling agung yang bila seseorang telah berhasil mencapainya, maka ia termasuk hamba Allah yang paling baik kedudukannya pada hari Kiamat.

Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." {QS. Fusshilat: 33}

[Disalin dari buku 'Nasehat untuk Generasi Muda Ahlus Sunnah' karya Dr. Ibrahim bin `Amir Ar Ruhaily, penterjemah Muhammad Arifin Badri MA, Pustaka Darul Ilmi.]

Rabu, 18 April 2012

Analisa: Bagi Wanita, Manakah yang Terbaik?

Ditulis oleh: al Ustadz Abu Iram Al-Atsary -hafizhahullah

Analisa: Bagi wanita, manakah yang terbaik? Menikah dengan orang yang mencintainya atau dengan orang yang dicintainya?

Tahukah Anda?

Bagi seorang wanita itu, lebih baik dia menikah dengan orang yang mencintainya daripada dengan pria yang dia cintai, maka saat datang kepadanya seorang lelaki yang baik agamanya, maka bukalah hati Anda untuk menerimanya, karena cinta itu mudah bangkit dan mengikuti jiwa-jiwa yang tunduk ikhlas di hadapan-Nya.

Mengapa demikian?

Mari kita analisa bersama..

Sebelumnya saya tegaskan, analisa saya subjeknya adalah lelaki yang datang melamar dan dia baik agamanya, sedangkan yang dicintai si wanita belum jelas agamanya. Dan ini telah banyak terjadi, yang berujung si wanita tetap dalam penantiannya yang tak menentu bagi akhiratnya serta meninggalkan lelaki yang terbaik untuk agama dan akhiratnya.

---

Analisa pertama:

Wanita ditakdirkan sebagai seorang makmum, maka langkah dan geraknya di masa datang akan sangat terpengaruh oleh suaminya, jika ia mendapatkan seorang suami yang sholeh, maka dengan sendirinya ia mempunyai peluang yang besar untuk mengikutinya, dan jika dia mendapatkan seorang suami yang durhaka, maka besar peluangnya ia akan ikut terseret.

Analisa kedua:

Lelaki yang mencintainya dengan tulus akan mampu memperlakukannya dengan baik di saat dia marah, di saat dia benci, sedangkan lelaki yang dicintainya belum tentu memiliki perasaan yang sebanding, maka keadaan yang terjadi kerap kali si wanita menjadi objek, baik pemerasan, korban, dan sesuatu yang menyakitkan kerap menyapanya, baik itu ringan tangan, ataupun yang lainnya.

Analisa ketiga:

Lelaki yang mencintainya dengan tulus, akan siap berkorban, mampu melindunginya di saat-saat dia membutuhkannya, karena sebagaimana Anda jika memiliki suatu barang kesayangan, tentu takkan rela jika barangnya itu disia-siakan.

Analisa keempat:

Seseorang yang mencintai, biasanya sanggup berkorban untuk yang dicintainya, mendahulukan kepentingannya, mudah memaafkan, berusaha menerima kondisi dan keadaan karakternya, perhatian, dan akan mudah menemui rasa sabarnya dan banyak menanamkan rasa pengertiannya.

Nah itu 4 analisa yang saya dapatkan, adapun kebanyakan kasus yang terjadi adalah kebingungan wanita, "bagaimana mungkin saya menikah dengan orang yang tak saya cintai?". Ini fokus permasalahan utamanya, iya kan?

---

Memang sekilas keterlaluan jika saya menyarankan kepada Anda muslimah untuk menikah dengan orang yang tidak Anda cintai. Tapi sungguh dari banyak kasus dan pengalaman, menikah dengan orang yang mencintai Anda dan dia baik agama serta akhlaknya, jauh lebih berhasil ketimbang dengan yang GaJeBo (baca: Ga Jelas Bo!!)

Karena wanita itu kerap membutuhkan support, kerap membutuhkan suatu penopang di saat-saat tertentu dia mendapatkan masalah, maka seseorang yang baik agamanya dan mencintai dia dengan tulus, akan mampu melakukannya dengan baik, masih tidak percaya?

Seseorang yang GaJeBo, di saat-saat seperti itu biasanya akan cenderung mencuekkan Anda, meninggalkan Anda sendirian, karena keasyikkannya bukanlah dengan Anda, dia hanya merasakan bahwa dia dipuja, dia disanjung, dan Anda takkan mampu hidup tanpanya, maka biasanya tipe seperti ini selalu banyak keinginan, banyak menuntut, minta dimengerti bukan memahami.

Misal, dia akan mengeluh di saat Anda tak mampu memberikannya pelayanan yang baik di saat Anda mengalami masa-masa haidh, di saat terjadi masalah dia akan selalu mengeluhkan kekurangan Anda tanpa merasa dirinya pun banyak melakukan kelalaian, dia merasa super sendirian dan dia mampu berlalu dari kehidupan Anda dengan wajah tanpa dosa di saat dia meninggalkan Anda (baca: bercerai). Dia sanggup meninggalkan Anda yang sibuk dengan anak-anak Anda, dia sama sekali tak bertanggung jawab terhadap anak-anaknya dengan berbagai dalih dan alasan, entah itu tak memiliki pekerjaan, tak memiliki kelebihan nafkah, dia LUPA bahwasanya kewajibannyalah selaku ayah, imam, pengayom dan pembimbing yang wajib menafkahi anak-anaknya sekalipun sudah berpisah. Dia bermental banci, berani berbuat tapi takut tanggung jawab, dia tidak merasakan rasa malu sedikitpun bahwasanya, "Kok malah istrinya, ibu dari anak-anaknya yang membiayai dan menghidupi anak-anaknya, padahal di satu sisi dia seorang pria yang gagah perkasa dan layak dihormati oleh istrinya !!!"

Nah itulah sekelumit gambaran, sekelumit analisa, mengapa Anda sebaiknya menikah dengan orang yang mencintai Anda muslimah dan dia telah Anda dapati dengan sebenar-benarnya adalah seorang yang sholeh dan baik agamanya, maka sekalipun fisiknya tidak sreg di hati Anda, penghasilannya jauh di bawah Anda, maka lupakan itu, targetkan akhirat Anda, karena kehidupan Anda tidak selamanya hanya dengan ketampanan, dan roda pun berputar, tak selamanya si miskin itu berjalan kaki, suatu hari dia, jika Allah kehendaki dia akan mampu mengantar Anda dengan sebuah mobil BMW!! Insya Allah..

---

Nah sebagai penutup, maka saya sedikit singgung beberapa hal yang mesti Anda lirik dari calon suami Anda sendiri:

  • Pilih yang lurus aqidahnya, karena kunci syurga dan neraka ada pada aqidahnya.
  • Pilih yang memiliki pemahaman ilmu yang cukup baik, saya tak mengatakan yang mumpuni sekelas ustadz-ustadz alumnus Yaman atau Madinah, tapi setidaknya dia seorang yang mau belajar dan terus belajar dan mampu mengukur kekurangan dirinya, artinya bukan yang merasa SOTOY (Sok Tahu) tapi yang mau diluruskan dan menerima masukan yang berharga. Karena kelak, sebaik-baiknya pengajar Anda adalah suami Anda sendiri.
  • Pilih yang baik akhlaknya, karena ada sebagian yang memiliki pemahaman baik dan aqidah yang lurus, namun memiliki temperamen dan akhlak yang buruk. Bukankah sebaik-baiknya muslim adalah yang memperlakukan istrinya dengan baik? Dan kunci rumah tangga (yang) sukses adalah akhlak yang baik dari suami dan istri. Dengan akhlak yang baik, masalah-masalah yang terjadi bisa diselesaikan dengan cara yang baik pula.

Nah, memang tak mudah untuk menggapai dan meraih semua point di atas, kuncinya adalah carilah tahu kepada orang-orang yang mengenalnya dengan baik, bagaimana keadaan dia, bagaimana pemahaman dan kelurusan aqidahnya.

Selain itu, jangan biarkan dia sendirian berjuang memperjuangkan permintaannya kepada keluarga Anda. Namun Anda pun mesti membantu perjuangannya demi mendapatkan akhirat Anda yang baik, dan terakhir saya katakan kepada Anda, KEMISKINAN CALON SUAMI BUKAN PENGHALANG ANDA MENIKAH DENGANNYA, KECUALI JIKA ANDA SUDAH MENGUKUR DAN MENUKAR AKHIRAT ANDA DENGAN URUSAN DUNIA YANG SERBA RIBET. MAKA NASEHAT SAYA INI PUN TAK LAGI MENJADI BERHARGA !!!

Selamat berjuang saudariku. Semoga Allah memudahkan urusan engkau saudariku.

Allahu a'lam

Kamis, 12 Januari 2012

Untaian Nasehat (Para) Salaf

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:

"Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui tentang diriku sendiri, niscaya kalian akan menaburkan tanah di atas kepalaku."

(Shifatush Shafwah, I/406, 407. Dikutip dari buku "Sudah Salafikah Akhlak Anda?", Pustaka At-Tibyan, Solo)

Muhammad bin Waasi' rahimahullah berkata:

"Jika seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau, maka tidak seorang pun yang akan duduk denganku." (Siyaar A'laam An-Nubalaa' 6/120)

Jika setiap dosa yang kita lakukan memiliki bau busuk yang khas, tentunya akan keluar beraneka ragam bau yang busuk dari tubuh kita. Maka semua orang akan lari dari kita.

Jika seandainya Allah membongkar satu saja aib kita yang selama ini kita sembunyikan, tentunya semua orang yang tadinya memuji dan menghormati serta menyanjung kita akan berbalik mencela dan merendahkan. Wallahul musta'aan.

(Copas dari nasehat Ustadz Firanda hafizhahullah di www.firanda.com)

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata (kepada dirinya sendiri):

"Wahai orang yang sengsara, kamu orang jahat, tetapi menganggap dirimu baik. Kamu itu orang bodoh, tetapi menganggap dirimu pintar. Kamu tolol, tetapi menganggap dirimu cerdik. Umurmu pendek, tetapi angan-anganmu panjang."

Imam Adz Dzahabi rahimahullah menambahkan:

"Demi Allah, sungguh benar apa yang beliau katakan. Kita ini zhalim, tetapi justru merasa dizhalimi. Tukang memakan yang haram, tetapi merasa diri kita orang suci. Fasik, tetapi merasa diri kita shalih. Mencari ilmu untuk mengejar dunia, tetapi merasa mencarinya karena Allah semata." (Siyaar A'laam Nubalaa' [VIII/440])

(Dikutip dari buku "Sudah Salafikah Akhlak Anda?", penerbit Pustaka At-Tibyan, Solo. Bab: Ulama as-Salaf Dalam Kejujuran dan Keikhlasan)

Sumber: (copas) Isi status Abu Muhammad Herman -hafizhahullah-

Minggu, 08 Januari 2012

Ahlul Bid'ah

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Ahlul bid'ah itu bagaikan orang sakit, maka bolehkah kita memperolok orang yang sedang sakit badannya? Jika kita melihat orang yang buntung tangannya, apakah kita perolok? Orang yang berakal tak akan melakukannya. Mereka (ahlul bid'ah) itu fitnahnya lebih besar, karena mereka diuji dalam agama mereka, kasihan mereka itu. Maka sayangilah dan kasihanilah dia, jangan kamu cela, jangan suka membicarakannya, dan menyebarkan kesalahannya, tapi kita mohon pada Allah agar memberinya hidayah dan menyelamatkannya dari apa yang sedang menimpa dia, serta meminta perlindungan kepada Allah dari musibah ini.

Dinukil dari artikel yang berisi Nasehat Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily hafidzahullah (sumber website: www.almanhaj.or.id)

Selasa, 03 Januari 2012

Untaian Nasehat (Para) Salaf

Dari Kinanah bin Jibillah as-Sullami, diriwayatkan bahwa ia berkata:

Apabilah Engkau melihat orang yang LEBIH TUA umurnya darimu, katakanlah: "Orang ini sudah mendahuluiku dalam beriman dan beramal shalih, ia tentu LEBIH BAIK dariku."

Apabila Engkau melihat orang yang LEBIH MUDA umurnya darimu, katakanlah: "Aku telah mendahuluinya berbuat dosa dan kemaksiatan, ia tentu LEBIH BAIK dariku."

Dan apabila Engkau melihat sahabat-sahabatmu menghormati dan memuliakanmu, maka katakanlah: "Ini adalah kemuliaan yang akan diperhitungkan nanti."

Kalau Engkau melihat mereka kurang menghormatimu, maka katakanlah: "Ini akibat dosa (kesalahan) yang kuperbuat sendiri."

[Shifatush Shafwah (III: 248). Lihat: "Sudah Salafikah Akhlak Anda?", Pustaka at-Tibyan, Solo]

Sumber: (copas) Isi status Abu Muhammad Herman -hafizhahullah-