Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juli 2012

Jilbab Bersanggul

"Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia, dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun hanya tercium selama perjalanan sekian dan sekian." (HR. Muslim no. 2128)

---


Untuk saudariku muslimah, dimana pun kalian berada. Berhati-hatilah dengan dunia fashion pada masa sekarang, terlebih mengenai pakaian yang wajib kita kenakan, yakni hijab syar'i. Jangan terpengaruh dengan label jilbab gaul, jilbab modis, dan lain sebagainya jika tidak dapat memenuhi kriteria yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

Apalagi pada saat ini, dimana tren jilbab bersanggul telah mewabah, menjadi sebuah hal yang diminati oleh kalangan wanita muslimah. Padahal model jilbab tersebut belum dapat memenuhi kriteria hijab syar'i yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Bukankah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, bahwa wanita yang tidak dapat mencium baunya surga (salah satunya) adalah wanita yang kepalanya seperti punuk unta?

Inilah contoh jilbab bersanggul yang tak ubahnya seperti punuk unta..

ciput bersanggul*

jilbab bersanggul*

seperti punuk unta*

Untuk itu, marilah saudariku muslimah, kita sama-sama memperbaiki hijab yang kita kenakan, terkhusus dalam soal ini adalah jilbab penutup rambut kepala kita. Kenakanlah jilbab sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh para shahabiyah radhiyallahu 'anhunna. Yang menjuntai/ terjulur sampai ke dada (khimar) dan yang menutupi seluruh tubuh kita. Semoga Allah mudahkan bagi kita untuk menjalankan secuil dari perintah-Nya, yakni berhijab syar'i, insya Allah, aamiiin.. :)

Check this page, please.. Pernak-Pernik Hijab Muslimah

*sumber gambar: Google and another website

Minggu, 22 April 2012

Dilema Kaum Muslimah; Belajar atau Mengurus Rumah?

Bismillaah

Belajar agama penting, namun mengurus rumah tangga, suami dan anak-anak juga tidak kalah penting bagi ibu rumah tangga. Lalu bagaimana solusinya? Mendatangkan pembantu atau ada solusi lain? Solusi dari dilema ini tentu bukan hal yang saklek harus begini atau harus begitu. Namun mari kita simak nasehat seorang ulama besar tentang masalah ini.

Pertanyaan:
Mana yang lebih utama bagi seorang wanita muslimah, menunaikan kewajibannya mengurus pekerjaan rumah dan mengurus suaminya? Ataukah menghabiskan waktunya menuntut ilmu agama dengan mendatangkan seorang pembantu rumah tangga untuk mengurus pekerjaan rumahnya. Mohon bimbingan Anda, semoga Allah memberi Anda ganjaran yang lebih baik.

Syaikh Shalih bin  Fauzan Al Fauzan hafizhahullah menjawab:
Benar bahwa wajib bagi setiap wanita muslimah untuk serius belajar agama sesuai dengan kesanggupannya. Namun, melayani suami, mentaati suami dan mengurus anak-anak adalah kewajiban yang agung. Hendaknya ia setiap harinya menyempatkan diri belajar agama walau hanya sedikit, atau menyempatkan diri menghadiri pengajian walau sebentar. Atau juga ia dapat mengalokasikan waktu tertentu setiap harinya untuk membaca, lalu sisa waktunya untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dengan demikian ia tidak meninggalkan belajar agama dan tidak meninggalkan pekerjaan rumahnya, tidak meninggalkan anak-anaknya tanpa perlu menyerahkannya kepada pembantu rumah tangga.

Hendaknya ia menjaga keselarasan dalam masalah ini, antara waktu untuk belajar agama walau sedikit dengan waktu yang cukup untuk pekerjaan rumah tangga.

(Muntaqa Fatawa Shalih Al Fauzan, jilid 4, fatwa no. 195)

Rabu, 18 April 2012

Analisa: Bagi Wanita, Manakah yang Terbaik?

Ditulis oleh: al Ustadz Abu Iram Al-Atsary -hafizhahullah

Analisa: Bagi wanita, manakah yang terbaik? Menikah dengan orang yang mencintainya atau dengan orang yang dicintainya?

Tahukah Anda?

Bagi seorang wanita itu, lebih baik dia menikah dengan orang yang mencintainya daripada dengan pria yang dia cintai, maka saat datang kepadanya seorang lelaki yang baik agamanya, maka bukalah hati Anda untuk menerimanya, karena cinta itu mudah bangkit dan mengikuti jiwa-jiwa yang tunduk ikhlas di hadapan-Nya.

Mengapa demikian?

Mari kita analisa bersama..

Sebelumnya saya tegaskan, analisa saya subjeknya adalah lelaki yang datang melamar dan dia baik agamanya, sedangkan yang dicintai si wanita belum jelas agamanya. Dan ini telah banyak terjadi, yang berujung si wanita tetap dalam penantiannya yang tak menentu bagi akhiratnya serta meninggalkan lelaki yang terbaik untuk agama dan akhiratnya.

---

Analisa pertama:

Wanita ditakdirkan sebagai seorang makmum, maka langkah dan geraknya di masa datang akan sangat terpengaruh oleh suaminya, jika ia mendapatkan seorang suami yang sholeh, maka dengan sendirinya ia mempunyai peluang yang besar untuk mengikutinya, dan jika dia mendapatkan seorang suami yang durhaka, maka besar peluangnya ia akan ikut terseret.

Analisa kedua:

Lelaki yang mencintainya dengan tulus akan mampu memperlakukannya dengan baik di saat dia marah, di saat dia benci, sedangkan lelaki yang dicintainya belum tentu memiliki perasaan yang sebanding, maka keadaan yang terjadi kerap kali si wanita menjadi objek, baik pemerasan, korban, dan sesuatu yang menyakitkan kerap menyapanya, baik itu ringan tangan, ataupun yang lainnya.

Analisa ketiga:

Lelaki yang mencintainya dengan tulus, akan siap berkorban, mampu melindunginya di saat-saat dia membutuhkannya, karena sebagaimana Anda jika memiliki suatu barang kesayangan, tentu takkan rela jika barangnya itu disia-siakan.

Analisa keempat:

Seseorang yang mencintai, biasanya sanggup berkorban untuk yang dicintainya, mendahulukan kepentingannya, mudah memaafkan, berusaha menerima kondisi dan keadaan karakternya, perhatian, dan akan mudah menemui rasa sabarnya dan banyak menanamkan rasa pengertiannya.

Nah itu 4 analisa yang saya dapatkan, adapun kebanyakan kasus yang terjadi adalah kebingungan wanita, "bagaimana mungkin saya menikah dengan orang yang tak saya cintai?". Ini fokus permasalahan utamanya, iya kan?

---

Memang sekilas keterlaluan jika saya menyarankan kepada Anda muslimah untuk menikah dengan orang yang tidak Anda cintai. Tapi sungguh dari banyak kasus dan pengalaman, menikah dengan orang yang mencintai Anda dan dia baik agama serta akhlaknya, jauh lebih berhasil ketimbang dengan yang GaJeBo (baca: Ga Jelas Bo!!)

Karena wanita itu kerap membutuhkan support, kerap membutuhkan suatu penopang di saat-saat tertentu dia mendapatkan masalah, maka seseorang yang baik agamanya dan mencintai dia dengan tulus, akan mampu melakukannya dengan baik, masih tidak percaya?

Seseorang yang GaJeBo, di saat-saat seperti itu biasanya akan cenderung mencuekkan Anda, meninggalkan Anda sendirian, karena keasyikkannya bukanlah dengan Anda, dia hanya merasakan bahwa dia dipuja, dia disanjung, dan Anda takkan mampu hidup tanpanya, maka biasanya tipe seperti ini selalu banyak keinginan, banyak menuntut, minta dimengerti bukan memahami.

Misal, dia akan mengeluh di saat Anda tak mampu memberikannya pelayanan yang baik di saat Anda mengalami masa-masa haidh, di saat terjadi masalah dia akan selalu mengeluhkan kekurangan Anda tanpa merasa dirinya pun banyak melakukan kelalaian, dia merasa super sendirian dan dia mampu berlalu dari kehidupan Anda dengan wajah tanpa dosa di saat dia meninggalkan Anda (baca: bercerai). Dia sanggup meninggalkan Anda yang sibuk dengan anak-anak Anda, dia sama sekali tak bertanggung jawab terhadap anak-anaknya dengan berbagai dalih dan alasan, entah itu tak memiliki pekerjaan, tak memiliki kelebihan nafkah, dia LUPA bahwasanya kewajibannyalah selaku ayah, imam, pengayom dan pembimbing yang wajib menafkahi anak-anaknya sekalipun sudah berpisah. Dia bermental banci, berani berbuat tapi takut tanggung jawab, dia tidak merasakan rasa malu sedikitpun bahwasanya, "Kok malah istrinya, ibu dari anak-anaknya yang membiayai dan menghidupi anak-anaknya, padahal di satu sisi dia seorang pria yang gagah perkasa dan layak dihormati oleh istrinya !!!"

Nah itulah sekelumit gambaran, sekelumit analisa, mengapa Anda sebaiknya menikah dengan orang yang mencintai Anda muslimah dan dia telah Anda dapati dengan sebenar-benarnya adalah seorang yang sholeh dan baik agamanya, maka sekalipun fisiknya tidak sreg di hati Anda, penghasilannya jauh di bawah Anda, maka lupakan itu, targetkan akhirat Anda, karena kehidupan Anda tidak selamanya hanya dengan ketampanan, dan roda pun berputar, tak selamanya si miskin itu berjalan kaki, suatu hari dia, jika Allah kehendaki dia akan mampu mengantar Anda dengan sebuah mobil BMW!! Insya Allah..

---

Nah sebagai penutup, maka saya sedikit singgung beberapa hal yang mesti Anda lirik dari calon suami Anda sendiri:

  • Pilih yang lurus aqidahnya, karena kunci syurga dan neraka ada pada aqidahnya.
  • Pilih yang memiliki pemahaman ilmu yang cukup baik, saya tak mengatakan yang mumpuni sekelas ustadz-ustadz alumnus Yaman atau Madinah, tapi setidaknya dia seorang yang mau belajar dan terus belajar dan mampu mengukur kekurangan dirinya, artinya bukan yang merasa SOTOY (Sok Tahu) tapi yang mau diluruskan dan menerima masukan yang berharga. Karena kelak, sebaik-baiknya pengajar Anda adalah suami Anda sendiri.
  • Pilih yang baik akhlaknya, karena ada sebagian yang memiliki pemahaman baik dan aqidah yang lurus, namun memiliki temperamen dan akhlak yang buruk. Bukankah sebaik-baiknya muslim adalah yang memperlakukan istrinya dengan baik? Dan kunci rumah tangga (yang) sukses adalah akhlak yang baik dari suami dan istri. Dengan akhlak yang baik, masalah-masalah yang terjadi bisa diselesaikan dengan cara yang baik pula.

Nah, memang tak mudah untuk menggapai dan meraih semua point di atas, kuncinya adalah carilah tahu kepada orang-orang yang mengenalnya dengan baik, bagaimana keadaan dia, bagaimana pemahaman dan kelurusan aqidahnya.

Selain itu, jangan biarkan dia sendirian berjuang memperjuangkan permintaannya kepada keluarga Anda. Namun Anda pun mesti membantu perjuangannya demi mendapatkan akhirat Anda yang baik, dan terakhir saya katakan kepada Anda, KEMISKINAN CALON SUAMI BUKAN PENGHALANG ANDA MENIKAH DENGANNYA, KECUALI JIKA ANDA SUDAH MENGUKUR DAN MENUKAR AKHIRAT ANDA DENGAN URUSAN DUNIA YANG SERBA RIBET. MAKA NASEHAT SAYA INI PUN TAK LAGI MENJADI BERHARGA !!!

Selamat berjuang saudariku. Semoga Allah memudahkan urusan engkau saudariku.

Allahu a'lam

Jumat, 06 April 2012

Wanita (yang) Mengenakan Parfum

Dari Abu Musa Al Asy`ary bahwasanya ia berkata, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur." (HR. An Nasa`i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami` no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Yahya bin Ja`dah, "Di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut, maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata,

"Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian?! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangian." (HR. Abdurrazaq dalam al Mushannaf no 8107)

Dari Ibrahim, Umar (bin Khatab) memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata,

"Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuan.". Ibrahim mengatakan, "Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)". (HR. Abdurrazaq no 8118)

Untuk selengkapnya, silahkan klik link berikut >> http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-wanita-mengenakan-parfum.html

---

Kesimpulan yang bisa diambil adalah terlarangnya bagi wanita yang memakai parfum saat keluar rumah. Sedangkan saat di dalam rumah, terlebih saat di hadapan suaminya hal tersebut (memakai parfum) tidaklah masalah, justru sangat dianjurkan (teranggap berhias untuk suami).

Wallahu a'lam

Sabtu, 24 Maret 2012

Bolehkah Hijab dan Cadar Berwarna Cerah?

Pertanyaan:

Dalam berhijab dan bercadar, apakah seorang wanita diperbolehkan memakai warna yang cerah seperti warna merah, warna hijau, biru, ungu, dan yang lainnya? Dengan alasan bahwa tidak ada larangan bagi seorang wanita memakainya?

(ditanyakan pada safari dakwah ulama ahlussunnah, Balikpapan, Selasa, tanggal 02 Rabi'ul Awal 1431 H)

Jawaban:

Oleh Asy Syaikh Abdullah bin Umar Al Mar'I hafizhahullah

Telah disebutkan dalam Ash Shahihain, Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari hadits Aisyah radhiyallahu ta`ala `anhaa bahwa pada saat pertama kali diturunkannya ayat hijab, para wanita Anshor, begitu mereka mendengarkan tentang ayat tersebut maka mereka pun bersegera untuk mengamalkannya. Sehingga disebutkan di dalam hadits tersebut bahwa aku tidak melihat seperti wanita Anshor, yaitu dalam hal pemenuhan seruan dan kesegeraan mereka menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta'ala untuk berhijab. Maka yang menjadi syahid adalah bahwa Aisyah berkata, "fakhorojna wa qod syaqoqna bikhumurihinna wa satama ru`uusahunna wa ajsaadahunna ka `annahunnal ghirbaan" (maka mereka langsung keluar dan mereka telah menyobek kain-kain mereka untuk kemudian menutupi kepala-kepala dan tubuh-tubuh mereka, seakan-akan mereka itu seperti burung gagak). Apakah kalian tahu burung gagak itu warnanya apa? Merah atau biru? Tentu warnanya hitam. Maka termasuk di antara sunnah para Shahabiyyat dalam berhijab adalah mengenakan pakaian hitam.

Demikian pula disebutkan di dalam banyak hadits, di antaranya:

Hadits Aisyah dalam Ash-Shahihain juga, dalam kisah "al ifk". Di dalam riwayat itu disebutkan bahwa hijab beliau juga berwarna hitam. Dan semisal riwayat tersebut, telah datang pula riwayat dari hadits Asma` radhiyallahu ta`ala `anha dan riwayat-riwayat lain yang sedemikian banyak. Maka ini semua menunjukkan bahwa hijabnya wanita-wanita sahabat, adalah berwarna hitam. Dan kita mengatakan bahwa Al-Kitab dan As-Sunnah harus dipahami dengan pemahaman siapa? Dengan pemahaman salaful ummah, dan dengan penerapan salaful ummah. Dan ini termasuk di antara penerapan salaful ummah. Bahwa mereka dulu mengenakan hijab dengan warna hitam.

Kemudian di sini juga ada hikmah lain yang lathifah (lembut tapi penting), yaitu bahwa warna hitam lebih menjauhkan seseorang dari menghias dirinya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang bersemangat untuk memilih hijab dengan warna hitam dan bukan warna yang lainnya.


---

Diambil dari artikel lainnya..

"Seorang wanita muslimah boleh memakai pakaian berwarna terang selama tidak menimbulkan fitnah (baca: godaan terhadap lawan jenis, ed) berdasarkan riwayat dari para wanita salaf [riwayat-riwayat ini bisa dilihat di dalam kitab Jilbab Mar`atil Muslimah, hlm 121-124;  karya Syaikh Al Albani]

Namun SEPANTASNYA meninggalkan pakaian berwarna terang yang menarik perhatian atau berwarna-warni yang menarik hati laki-laki. Karena tujuan perintah berjilbab adalah untuk menutupi perhiasan. Kalau jilbab/ pakaian itu sendiri dihiasi dengan renda, bros, aksesori, warna-warni yang menarik pandangan orang maka ini bertentangan dengan firman Allah azza wa jalla,

"Dan janganlah para wanita mukminah itu menampakkan perhiasan mereka." {QS. An Nur[24]: 31}

Ummu Salamah rhadiyallahu `anha berkata,

Ketika turun firman Allah (yang artinya), "Hendaknya mereka (wanita-wanita beriman) mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." {QS. Al-Ahzab[33]: 59}, wanita-wanita Anshar keluar seolah-olah pada kepala mereka terdapat burung-burung gagak karena warna (warna hitam -red) kain-kain (mereka). [HR. Abu Daud no. 4101; dishahihkan oleh Syaikh Al- Albani.]

Hadits ini menunjukkan bahwa wanita-wanita Anshar tersebut mengenakan jilbab-jilbab berwarna hitam.

Oleh karena itulah jika keluar rumah, hendaklah wanita memakai pakaian yang berwarna gelap, tidak menyala dan berwarna-warni agar tidak menarik pandangan orang. [Dan tidak harus berwarna hitam, apalagi di sebagian daerah yang masyarakatnya memandang warna hitam itu menyeramkan]. Wallahu a`lam."

Jadi di sebagian tempat warna pakaian hitam yang dikenakan oleh seorang muslimah itu bisa jadi menjadi pakaian syuhroh ketika warna hitam di daerah tersebut dinilai adalah warna yang "menyeramkan" sehingga dalam kondisi seperti ini sangat tidak dianjurkan untuk memakai warna hitam.

Sumber: Ringkasan dari artikel >> http://ustadzaris.com/haruskah-hitam-menyeramkan

---

Note:

*Pakaian syuhroh di sini bentuknya adalah pakaian yang berbeda dengan pakaian yang biasa dipakai di negeri tersebut dan tidak digunakan di zaman itu.

Akan tetapi, Alhamdulillaah di Indonesia sekarang ini -khususnya di daerah perkotaan- hijab dengan warna hitam-hitam sudah tidak asing lagi. Meski pada sebagian daerah masih dipandang asing.

Menurut pendapat pribadi -jika disimpulkan-, jauh lebih selamat jika mengenakan hijab dengan warna hitam, kalau pun belum bisa, diusahakan yang berwarna gelap (tidak harus hitam), seperti coklat pekat, biru dongker, ungu gelap, dan lain sebagainya.

Pemilik blog ini pun masih berusaha untuk memperbaiki hijabnya, karenanya, catatan/ rangkuman dari artikel di atas sebagai masukan untuk pemilik blog terlebih dahulu.

Semoga bermanfaat.

Senin, 02 Januari 2012

Kriteria Pakaian Wanita Muslimah

Bismillaah..

Di bawah ini adalah point-point penting yang harus diperhatikan oleh seorang wanita muslimah dalam soal berpakaian. Kriteria yang disebutkan, insya Allaah sesuai dengan apa yang telah dituntunkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya shalallahu 'alayhi wa sallam.

1. Menutup seluruh tubuh, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Akan tetapi, ada sebagian para ulama yang mewajibkan seorang wanita untuk menutup wajahnya (bercadar). Dan kedua kaki pun termasuk ke dalam aurat wanita, sehingga harus ditutupi (menggunakan kaus kaki).

Allah ta'ala berfirman:
"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang." (QS. Al Ahzab[24]: 31)

2. Bukan pakaian untuk berhias >> Pakaian tersebut tidak penuh dengan hiasan-hiasan, seperti aneka gambar dengan warna-warna yang mencolok, atau gambar makhluk hidup. Karna salah satu faedah dari perintah berjilbab adalah untuk menutupi perhiasan wanita.

"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu bertabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama." (QS. Al Ahzab: 33)

Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang mestinya ditutup karna hal itu dapat menggoda kaum lelaki.

3. Pakaian tersebut tidak tipis dan tembus pandang yang dapat menampakkan bentuk lekuk tubuh.

"Dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu: Suatu kaum yang memiliki cambuk, seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, wanita seperti itu tidak akan masuk surga, dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan ini dan ini." (HR. Muslim, shahih)

4. Tidak diberi wewangian atau parfum >> Wewangian atau parfum jika dipakai di dalam rumah dan di hadapan suami, maka hal ini tidak masalah. Justru sangat dibolehkan, karna seorang wanita dianjurkan untuk berhias (mempercantik diri, salah satunya dengan memakai wewangian atau parfum) di hadapan suami.

"Perempuan mana saja yang memakai wewangian, lalu melewati kaum pria agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah wanita pezina." (HR. An-Nasa'i, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)

5. Tidak boleh menyerupai pakaian pria atau non muslim.

"Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria." (HR. Bukhari no.6834)

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka." (HR. Ahmad dan Abu Daud)

6. Bukan pakaian untuk mencari ketenaran atau popularitas (syuhroh)

"Barangsiapa mengenakan pakaian syuhroh di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan padanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka." (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Diringkas dari artikel: http://remajaislam.com/islam-dasar/pojok-muslimah/150-12-kriteria-pakaian-muslimah.html (untuk selengkapnya bisa diklik link yang terlampir)

Semoga bermanfaat.

Kamis, 29 Desember 2011

Untukmu Ukhti Muslimah [Nasehat Ringkas Tentang Jilbab - Radio Rodja]

Wahai saudari muslimah, siapakah yang menyuruhmu untuk berjilbab?

Untukmu ukhti muslimah..
Kemana akan kau bawa dirimu?
Kepada gemerlapnya dunia?
Gemilaunya harta?
Atau pada ketampanan seorang pria?
Walaupun kau harus membuka hijabmu.
Demi mendapat semua yang kau inginkan,
maka kehinaan yang kau dapatkan!

Wahai saudari muslimah, siapakah yang menyuruhmu untuk berhijab?

Untukmu ukhti muslimah..
Kemana akan kau bawa dirimu?
Kepada kemuliaan jiwa?
Kepada keridhaan Sang Pencipta?
Atau mulianya menjadi bidadari surga?
Walaupun hinaan dan cacian yang harus kau terima.
Demi menjaga hijab yang telah disyari'atkan oleh agama,
maka kebahagiaan yang akan kau dapatkan!

Katakan TIDAK pada gemerlapnya dunia!!
Jika hijabmu harus terlepas karnanya.

Katakan TIDAK pada kemilaunya harta!!
Jika hijabmu harus menjadi tebusannya.

Karena hijabmu,
adalah benteng kemuliaan dirimu.

Bahwasanya yang menyuruhmu untuk berhijab
yang menyuruhmu untuk berbusana muslimah
yang menyuruhmu ialah Allah dan Rasul-Nya
Dan konsekwensi kita sebagai seorang muslim maupun muslimah
wajib untuk ta'at kepada Allah Ta'ala
Karena Allah yang menciptakan kita
Allah yang memberikan rizki kepada kita
Allah yang memberikan segalanya kepada kita
Al-Qur'an menyuruh kita untuk berhijab
Allah yang menciptakan kita, yang menyuruh kita untuk berjilbab!

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang."
(QS. Al-Ahzab: 59)

Jika seandainya manusia (wanita muslimah) tidak berbusana muslimah, tidak berjilbab,
maka manusia ini akan rusak dan hancur, akan binasa.

Setiap wanita, TIDAK ADA UDZUR (tidak ada alasan) untuk tidak memakai busana muslimah.